PEMBAHASAN
1.
Pola Organisasi dan Program BK
1.
Definisi Pola Organisasi
Dalam bimbingan konseling hal yang paling mendasar adalah pola organisasi itu sendiri karena
pola inilah yang membedakan antara pola organisasi bimbingan konseling dan pola organisasi lainnya. Sebelum berlanjut kepada pembahasan
berikutnya, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian dari pola
organisasi itu sendiri. Pola
organisasi terdiri dari dua kata yaitu
pola dan organisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak,
model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap.
Sedangkan organisasi Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti
alat[1]. Menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian,
mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang
atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka
pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat
seseorang / beberapa orang yang disebutatasan dan seorang / sekelompok orang
yang disebut dengan bawahan.” (Burky dan Perry, 1998) Organissasi adalah sebuah
kesatuan yang terdiri dari sekelompok orang yang bertindaksecara bersama-sama
dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan
bahwa dalam organisasi setidaknya harus memiliki tiga profes, yaitu (a)
Sekumpulan orang, (b) Kerjasama, (c) Tujuan yang ingin dicapai. Dengan
demikian, organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang terdiri setidaknya
dua orang, berfungsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkain sasaran.
Sebagaimana fungsi organisasi sebagai media menyatukan
persepsi dan tujuan bersama yang hendak dicapai, kehadiran organisasi profesi,
khususnya di bidang bimbingan dan konseling di lingkungan lembaga pendidikan
menjadi sangat penting. Hal itu karena kegiatan program bimbingan dan konseling
berarti suatu bentuk kegiatan yang mengatur kerja, prosedur kerja, dan pola
kerja atau mekanisme kerja kegiatan bimbingan dan konseling. Kegiatan bimbingan
ini terfokuskan pada pelayanan yang diberikan kepada para siswa dan rekan
tenaga pendidik serta orangtua siswa, dan evaluasi program bimbingan
Gambar 1. Pola Organisasi Bimbingan Konseling di
SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK
2.
Definisi Program BK
Pelayanan bimbingan di
Sekolah/Madrasah merupakan usaha mambantu peserta didik dalam pengembangan
kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencaaan
pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta
didik, secara individual atau kelompok,
sesuai kebutuhan potensi, bakat, minat, serta perkembangan
peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga mambantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.
Program bimbingan merupakan suatu rangkai kegiatan terencana, terorganisasi,
dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu.[2]
Tohorin (2007:259) mengemukakan bahwa “Program bimbingan dan konseling
merupakan suatu rancangan atau rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam
jangka waktu tertentu.” Rancangan atau terancang kegiatan tersebut disusun
secara sistematis, terorganisasi, dan terkoordinasi dalam jangka waktu tertentu
Suatu
program layanan bimbingan dan konseling tidak akan berjalan efisien sesuai
kebutuhan keadaan siswa jika dalam pelaksanaannya tanpa suatu sistem
pengelolaan (manajemen) yang bermutu, artinya
dilakukan secara sistematis jelas dan terarah. Penyusunan program bimbingan dan
konseling sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan pelaksanaan
layanan bimbingan di sekolah. Dewa Ketut
Sukardi dan Desak Made Sumiati (1995:2) mengemukakan bahwa: “Penyusunan program
bimbingan dan konseling disekolah
hendaknya berdasarkan masalah-masalah
yang dihadapi oleh siswa serta kebutuhan-kebutuhan siswa dalam mereka mencapai
tujuan pendidikan yaitu kedewasaan siswa itu sendiri.”
Berdasarkan
hal tesebut di atas, maka perlulah disusun program bimbingan di sekolah agar
usaha layanan bimbingan di sekolah betul berdaya guna dan berhasil guna serta
tepat sasaran.
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya
(1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci
akan memberikan banyak keuntungan, seperti diantaranya :
a. Memungkinkan para petugas menghemat
waktu, usaha, biaya, dengan menghindari kesalahan-kesalahan, dan usaha
coba-coba yang tidak menguntungkan.
b. Memungkinkan siswa untuk mendapatkan
layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan,
ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan.
c. Memungkinkan setiap petugas mengetahui
dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana dan di mana
mereka harus melakukan upaya secara tetap; dan
d. Memungkinkan para petugas untuk
menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk
kepentingan siswa dibimbingnya.
2.
Program dan Komponen- Komponen BK
1.
Program BK
Program merupakan salah satu
konsekuensi bagi setiap kegiatan atau aktivitas manusia dalam mencapai suatu
tujuan, dari aktivitas yang sangat sederhana tidak tertulis sampai dengan yang
sangat kompleks, tertulis, dan sistematis. Disadari maupun tidak dalam setiap
aktivitas manusia ada sebuah program, sekalipun hanya di dalam pikiran. Dapat
dikatakan bahwa program merupakan pedoman, pegangan, atau panduan bagi para
pelaksana suatu kegiatan. Dan agar bimbingan konseling dapat berjalan dengan
lancar, efisien, dan efektif perlu adanya sebuah program.
Program pelayanan Bimbingan dan
Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan
memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antar kelas dan antar
jenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling
dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler,
serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.
Dilihat dari jenisnya, program
Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program, yaitu:
a.
Program
Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
b.
Program Semesteran, yaitu program pelayanan
Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
c.
Program
Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
d.
Program
Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh
kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
e.
Program
Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada
hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari
program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan
pendukung (SATKUNG). [4]
Dalam perencanaan program BK disekolah perlu
dilakukan dan dipersiapkan hal-hal sebagai berikut :
1. Studi kelayakan
Studi
kelayakan merupakan refleksi tentang alasan-alasan mengapa diperlukan suatu
program imbingan dan juga perlu
dilakukan untuk melihat program mana yang lebih layak untuk dilaksanakan dalam
bentuk layanan bimbingan terhadap siswa. Studi kelayakan dapat diadakan oleh
pimpinan sekolah dengan mengundang beberapa ahli bimbingan. Dapat pula
dilaksanakan oleh seorang guru yang
sudah berpengalaman dilembaga yang bersangkutan
2. Penyusunan program
bimbingan
Penyusunan program bimbingan dapat dikerjakan oleh tenaga ahli atau guru BK
disekolah dengan melibatkan tenaga bimbingan yang lain.
3. Penyusunan program BK harus
merujuk kepada kebutuhan sekolah secara umum dan lingkup layanan BK disekolah.
a.
Penyediaan
sarana fisik dan teknis
b.
Penentuan
sarana personil dan pembagian tugas
c.
Kegiatan-kegiatan
penunjang
Adapun tujuan
Program BK menurut Dewa Ketut Sukardi Dan Desak Made Sumiati
(2005:3) tujuan program bimbingan dan konseling disekolah terdiri dari : (1)
Tujuan umum, dan (2) Tujuan Khusus. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut :
a.
Tujuan Umum
Program Bimbingan
1.
agar siswa
dapar memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuannya
disekolah
2.
agar siswa
dapat memperkembangkan pengatahuan tetang dunia kerja, kesempatan kerja serta
rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu.
3.
agar siswa
dapat memperkembangkan kemampuan untuk memilih dan mempertemukan pengetahuan
tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang secara tepat dan
bertanggung jawab.
4.
agar siswa
dapat mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri orang lain.
b.
Tujuan Khusus Program Bimbingan
1.
agar siswa
memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri.
2.
agar siswa
memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulotan dalam memahami lingkungannya.
3.
agar siswa
memiliki kemampuan dalam mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan
memecahkan masalah yang dihadapinya.
4. agar para siswa memiliki kemampuan untuk mengastasi
dan menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam pendidikan dan lapangan
kerja secara tepat.
2.
Komponen – Komponen BK
Komponen adalah
bentuk atau bagian, jadi komponen dasar bimbingan dan konseling adalah apa saja
yang menjadi dasar dari bimbingan dan bimbingan konseling itu sendiri, sehingga
dalam prosesnya akan berjalan sebagaimana mestinya. Yang ternasuk komponen
dasar konseling yaitu :
a.
Konselor
Konselor
adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam konseling. Konselor bergerak
terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tapi juga merambah pada bidang
industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum
di masyarakat.[5] Dengan kata lain konselor sebagai
adalah seorang yang memberikan bantuan kepada seseorang atau kelompok untuk
memecahkan suatu masalah, baik masalah keluarga atau masalah dengan lingkungan
sekitar.
Konselor ini bisa berupa
seorang dokter psikologi, dosen atau yang lain. Adapun peran seorang
konselor yaitu sebagai sebagai mediator, konselor akan menghadapi beragam klien
yang memiliki perbedaan, budaya, nilai-nilai, agama serta keyakinan. Dan
sebagai penasehat sekaligus pembimbinng. Peran konselor sebagai pembimbing dan
penasehat adalah sebagai berikut :
a.
Konselor
memberikan bimbingan atau tuntunan kepada klien sesuai dengan masalah yang
dihadapi keluarga tersebut. Oleh karena itu seorang konselor harus memilki
kematangan dalam kepribadian agar konselor dapat memandang suatu masalah yang
sedang di tanganinya dengan dewasa dan bijaksana.
b.
Konselor
memberikan nasehat dengan cara membantu klien agar dapat melakukan Sesuatu yang
baik untuk keluarganya atau dirinya dan menghindari hal-hal yang tidak
sepantasnya di lakukan, baik oleh dirinya ataupun keluarganya. Serta dapat
menyelesaikan masalahnya.
b.
Klien
Klien
berasal dari bahasa inggris; client. Di kamus oxford, istilah client mempunyai pengertian
atau definisi sebagai berikut; person
who uses the services of a professional person or organization, eg; a lawyer or
a bank (seseorang yang menggunakan layanan dari seorang atau
sebuah organisasi profesional; contohnya pengacara atau bank). Klien yaitu orang yang membutuhkan bantuan atau pelayanan dari seseorang
ahli guna mendapat jawaban atau solusi.
Tujuan klien yang datang menemui konselor bersumber
dari ekpektasi klien
mengenai masalah mendesak yang sedang dirisaukan oleh klien. Dengan demikian,
yang dirisaukan oleh klien pada saat itu adalah “ bagaimana mengatasi gangguan
ini “ atau bahkan klien tidak mengerti perasaannya dan apa yang dikehendakinya
menemui konselor. Dengan kata lain, klien sering kali tidak memiliki
tujuan-tujuan masa datang yang terumuskan secara jelas.
Perlu ditegaskan lagi bahwa para klien menghadiri
konseling dengan ekpektasi-ekpektasi dan tujuan-tujuan khas dan beragam dari
klien ke klien. Seperangkat ekpektasi dan tujuan itu mempengaruhi arah dan
hasil konseling, dan menentukan apakah konseling berlanjut, atau perlu direfer,
ataukah konseling diakhiri¸setelah konseling sesi pertama.
c.
Teknik-teknik
konseling
Yang di maksud dengan teknik konseling disini adalah
cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang konselor dalam proses konseling
untuk membantu klien agar berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah
yang dihadapi dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi lingkungannya yakni
nilai-nilai social, budaya dan agama.dalam proses konseling, penguasaan
terhadap teknik konseling akan merupakan kunci eberhasilan untuk mencapai
tujuan konseling. Seorang konselor yang efektif harus harus mampu merespon
klien secara baik dan benar sesuai dengan klien pada saat itu. Respon-respon
yang baik berupa pertanyaan-pertanyaan verbal dan nonverbal yang dapat
menyentuh, merangsang, dan mendorong sehingga klien terbuka untuk menyatakan
secara bebas perasaan, pikiran, dan pengalamannya.
3.
Ciri – Ciri Program BK yang Efektif
Sebagai layanan yang profesional maka layanan
Bimbingan dan Konseling saat ini harus memperhatikan kebutuhan siswa.
(Nurihsan, 2006: 55) mengungkapkan bahwa kualitas mutu layanan bimbingan akan
mendapatkan pengakuan jika layanan Bimbingan dan Konseling mampu memenuhi apa
yang diharapkan oleh para konseli. Secara lebih rinci Nurihsan, 2006: 55)
mengungkapkan bahwa mutu layanan bimbingan dan konseling merujuk pada proses
dan produk layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa,
masyarakat, serta pemerintah.
Dengan kata
lain, dalam penyusunan program layanan bimbingan harus memperhatikan banyak
aspek, dan hal yang paling pokok adalah program yang dikembangkan harus sesuai
dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan tidak melenceng dari tujuan pendidikan.
Oleh karena itu penyusunan dan pengembangan program BK harus berdasar pada
analisis kebutuhan yang valid dan reliabel, sehingga data yang dihasilkan bisa
dijadikan dasar pengembangan program.
Rochman
Natawidjaya mengemukakan bahwa Program Bimbingan dan Konseling yang baik adalah
yang efektif dan efisien dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1. Program itu disusun dan dikembangkan
berdasarkan kebutuhan nyata dari para siswa yang bersangkutan.
2. Kegiatan bimbingan disusun menurut skala
prioritas yang juga ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan
petugas.
3. Program dikembangkan berangsur-angsur
dengan melibatkan semua tenaga pendidikan dalam merencanakannya.
4. Program memiliki tujuan yang ideal,
tetapi realistis dalam pelaksanaannya.
5. Program mencerminkan komunikasi yang
berkesinambungan di antara semua anggota dan staf pelaksananya.
6. Menyediakan fasilitas yang diperlukan.
7. Penyusunan disesuaikan dengan program
pendidikan di lingkungan yang bersangkutan.
8. Memberikan kemungkinan pelayanan kepada
semua siswa yang bersangkutan.
9. Memperlihatkan peranan yang penting
dalam menghubungkan dan memadukan
10. Berlangsung sejalan dengan proses
penilaian diri, baik mengenai program itu sendiri maupun kemajuan dari siswa
yang dibimbing, serta mengenai kemajuan pengetahuan, keterampilan dan sikap para petugas
pelaksananya.
11. Program itu menjamin keseimbangan dan
kesinambungan pelayanan bimbingan dalam
hal : 1) pelayanan kelompok dan individual; 2) pelayanan yang diberikan
oleh petugas bimbingan; 3) penggunaan
alat pengukur yang obyektif dan subyektif; 4) penela’ahan tentang siswa dan
pemberian bimbingan; 5) pelayanan diberikan dalam berbagai jenis bimbingan; 6)
pemberian bimbingan umum dan khusus; 7) pemberian bimbingan tentang berbagai
program sekolah ; 8) penggunaan sumber-sumber di dalam dan di luar sekolah; 9)
kesempatan untuk berpikir, merasakan, dan berbuat; 10) kebutuhan individu dan
kebutuhan masyarakat.
4. Cara Penyusunan Program BK
Penyusunan program bimbingan dan konseling dapat dikerjakan oleh tenaga ahli bimbingan
atau guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah dengan coordinator
bimbingan dan konseling yang melibatkan tenaga bimbingan yang lain. Penyusunan
program bimbingan dan konseling harus merujuk pada kebutuhan sekolah secara dan
lingkup bimbingan dan konseling di sekolah.
Menurut
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) dalam menyusun program BK diperlukan
langkah2 sbb :
- Tahap Persiapan, tahap ini mempunyai arti penting dalam menarik minat dan Perhatian dalam BK dan memelihara suasana psikologis yang menguntungkan semua pihak yang ikut terlibat didalamnya sejak awal. Tahap ini digunakan sebagai langkah awal dalam pelaksanaan program.
- Pertemuan- pertemuan para konselor yang ditunjuk oleh pimpinan sekolah, tujuannya untuk menyamakan pikiran tentang perlunya program Bk serta program yang akan disusun. Pertemuan ini melibatkan semua pihak yang tertarik dan mempunyai kemampuan dalam bidang BK.
- Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program BK, yang mempunyai tugas untuk merumuskan tujuan program bimbingan yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tsb, dan membuat kerangka dasar dari program yang akan disusun.
- Pembentukan Pantia penyelenggara program, yang bertugas mempersiapkan program tes, mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan dan melatih para pelaksana program bimbingan untuk melaksanakan program tsb.
- Pelaksanaan program BK, hal yang harus diperhatikan : masalah yang muncul, waktu penyelesaian masalah, prosedur penyelesaian masalah baik dgn test maupun non test, dan pelaksana staf BK, serta sarana dan prasarana yang perlu ditunjang.
6. Follow up, setiap akhir tahun perlu
dilakukan evalusai terhadap pelayanan BK agar pelayanan BK dari tahun ke tahun
semakin baik dan memuaskan.Pelaksanaan bimbingan dan konseling
di sekolah perlu mengikuti pola kerja yang sistematis, sehingga program
bimbingan dan konseling dapat terlaksana dengan baik. Tanpa sistem kerja yang
baik, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah akan kurang efektif.
