Minggu, 16 Juni 2013

hadist tentang membunuh anak

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Penjelasan
حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
 ( رواه البخاري ) [1]
Artinya : Imam Bukhori meriwayatkan dari Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Jarir dari Abi Wail dari 'Amru bin Syurohbil dari 'Abdullah  ( bin Mas'ud ) telah mengatakan bahwa ia bertanya kepada Nabi saw : Dosa apa yang besar disisi Allah? Jawab Nabi : ialah engkau jadikan adanya sekutu / tandingan bagi Allah padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu. Kata Ibnu Mas'ud : Inikah yang paling besar, kemudian apa lagi Ya Rasulullah ?jawab Rasulullah yaitu engkau membunuh anakmu sendiri karena takut ia akan makan bersama engkau.kemudian apa lagi kata ibnu mas'ud ? jawab Rasulullah yaitu engkau berzina dengan istri tetanggamu.”  { HR. Bukhori }
Membunuh merupakan mengambil hak hidup orang lain. Membunuh sesama termasuk “mendahului Tuhan”. Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Abu Salamah bin Abdurrahman, Qatadah, Ad-Dhahhak, dan Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa tidak ada kesempatan taubat untuk seorang pembunuh.
Membunuh atau melakukan pembunuhan merupakan dosa yang sangat besar. Berikut :
ô`ÏB È@ô_r& y7Ï9ºsŒ $oYö;tFŸ2 4n?tã ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ¼çm¯Rr& `tB Ÿ@tFs% $G¡øÿtR ÎŽötóÎ/ C§øÿtR ÷rr& 7Š$|¡sù Îû ÇÚöF{$# $yJ¯Rr'x6sù Ÿ@tFs% }¨$¨Z9$# $YèÏJy_ ô`tBur $yd$uŠômr& !$uK¯Rr'x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $YèÏJy_ ......4 ÇÌËÈ  
Artinya: Barangsiapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (QS Al-Maidah 5:32:)
Anak adalah anugerah,bahkan di dalam al-Qur’an dikatakan sebagai perhiasan hidup,
ãA$yJø9$# tbqãZt6ø9$#ur èpuZƒÎ Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# ...... ÇÍÏÈ  
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…”(QS.al-Kahfi:46). Bayangkan,jika hidup kita tanpa perhiasan,semuanya akan terasa suram.Untuk itu kita patut bersyukur atas nikmat Allah yang dititipkannya melalui anak-anak kita.Rasa syukur itu dapat kita wujudkan dengan mengasuh dan mendidik mereka berlandaskan fitrah dan kasih sayang.
Selain sebagai anugerah,anak diberikan kepada orang tuanya sebagai amanah”berat”untuk dipelihara,dididik dan dibina agar berkualitas dan tangguh.Seperti diperintahkan dalam al-Qur’an,
|·÷uø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz Zp­ƒÍhèŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøŠn=tæ (#qà)­Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´ƒÏy ÇÒÈ
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah,yang mereka khawatir terhadap(kesejahteraan)mereka.Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”(QS.an-Nisaa’:9).
Ÿwur (#þqè=çGø)s? öNä.y»s9÷rr& spuô±yz 9,»n=øBÎ) ( ß`øtªU öNßgè%ãötR ö/ä.$­ƒÎ)ur 4 ¨bÎ) öNßgn=÷Fs% tb%Ÿ2 $\«ôÜÅz #ZŽÎ6x. ÇÌÊÈ  
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al Isra’: 31)
Sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Bijaksana, Maha Rahim, Maha Rahman. Dia memberi keluasan rizqi kepada siapa saja yang Dia kehendaki  sebagai ujian, apakah bisa bersyukurinya atau bahkan mengkufurinya.
Allah memberi ujian apapun tentu diiringi dengan hikmah. Jika semakin bersyukur ia akan mendapat pahala yang besar lain halnya jika ia semakin kufur maka dosa yang ia dapat. . Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba tetap bersyukur dan bersabar dalam keadaan bagaimanapun dengan tetap melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya
Di antara larangan Allah  atas hambanya adalah membunuh anak-anaknya karena takut kemiskinan. Allah  melarang hal tersebut di dalam ayat ini karena kebiasaan bangsa Arab di zaman jahiliyah adalah membunuh anak-anak mereka karena takut miskin dan aib. Kemudian Allah  menjelaskan bahwa yang menanggung dan memberi rizqi anak-anak mereka juga rizqi mereka adalah Allah  semata[2], (sudah jelas kiranya bahwa) bukanlah mereka yang memberi rizqi kepada anak-anak mereka, (akan tetapi Allah  -lah yang memberi rizki) bahkan (sebenarnya) mereka sendiri pun tidak mampu untuk memberi rizki kepada diri mereka sendiri. Maka, tidak pantas bagi mereka merasa keberatan (untuk membiarkan anak-anak mereka hidup bersama mereka).[3]
B.            Asbabul Wurud
Pada suatu hari Ibnu Mas'ud bertanya kepada Nabi saw mengenai dosa yang sebesar-besarnya di sisi Allah. Ibnu Mas’ud : ( أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ) Dosa apa yang besar disisi Allah? Jawab Nabi : (أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ ) ialah engkau jadikan adanya sekutu / tandingan bagi Allah padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu. Kata Ibnu Mas'ud : (إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ ) Inikah yang paling besar, (ثُمَّ أَيُّ  )kemudian apa lagi Ya Rasulullah ?jawab Rasulullah ( وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ  ) yaitu engkau membunuh anakmu sendiri karena takut ia akan makan bersama engkau. (ثُمَّ أَيُّ ) Kemudian apa lagi kata ibnu mas'ud ? jawab Rasulullah:  (أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ ) yaitu engkau berzina dengan istri tetanggamu.”  
C.                       Biografi Imam Bukhori[4]
Imam Bukhari terlahir dengan nama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Di  Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah (Rusia).
Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.
Imam Bukhari dalam mendalami hadits berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih.
Imam Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail.
Pada suatu hari ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.
Adapun karya-karya beliau adalah  Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien , At-Tarikh, kitab   Al-Jami’ ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al ‘Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.
Imam Bukhori wafat pada 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 ketika dalam pejalanan menuju Samarkand di rumah familynya. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
D.           Takhrijul Hadits
Tentang hadits membunuh anak karena takut tidak mampu membiayai dapat dilihat pada kitab al-lu’lu wal marjan, hal. 210. Serta dalam bebarapa surat Al qur’an, antara lain:
ôs% uŽÅ£yz tûïÏ%©!$# (#þqè=tGs% öNèdy»s9÷rr& $Jgxÿy ÎŽötóÎ/ 5Où=Ïæ (#qãB§ymur $tB ÞOßgs%yu ª!$# ¹ä!#uŽÏIøù$# n?tã «!$# 4 ôs% (#q=|Ê $tBur (#qçR$Ÿ2 šúïÏtGôgãB ÇÊÍÉÈ  
Artinya, "Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah ALlah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk," (Al-An'am: 140).
* ö@è% (#öqs9$yès? ã@ø?r& $tB tP§ym öNà6š/u öNà6øŠn=tæ ( žwr& (#qä.ÎŽô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«øx© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ( Ÿwur (#þqè=çFø)s? Nà2y»s9÷rr& ïÆÏiB 9,»n=øBÎ) ( ß`ós¯R öNà6è%ãötR öNèd$­ƒÎ)ur ( Ÿwur (#qç/tø)s? |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $yg÷YÏB $tBur šÆsÜt/ ( Ÿwur (#qè=çGø)s? š[øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ö/ä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9 tbqè=É)÷ès? ÇÊÎÊÈ  
Artinya: "Katakanlah, marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabb-mu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang tampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan ALlah membunuhnya melainkan dengan sesuatu sebab yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan Rabb-mu kepadamu supaya kamu memahaminya," (Al-An'am: 151).
Ÿwur (#þqè=çGø)s? öNä.y»s9÷rr& spuô±yz 9,»n=øBÎ) ( ß`øtªU öNßgè%ãötR ö/ä.$­ƒÎ)ur 4 ¨bÎ) öNßgn=÷Fs% tb%Ÿ2 $\«ôÜÅz #ZŽÎ6x. ÇÌÊÈ  
Artinya: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan member rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar," (Al-Israa': 31).
$pkšr'¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# #sŒÎ) x8uä!%y` àM»oYÏB÷sßJø9$# y7uZ÷è΃$t7ム#n?tã br& žw šÆø.ÎŽô³ç «!$$Î/ $\«øx© Ÿwur z`ø%ÎŽô£tƒ Ÿwur tûüÏR÷tƒ Ÿwur z`ù=çFø)tƒ £`èdy»s9÷rr& Ÿwur tûüÏ?ù'tƒ 9`»tFôgç6Î/ ¼çmuZƒÎŽtIøÿtƒ tû÷üt/ £`ÍkÏ÷ƒr&  ÆÎgÎ=ã_ör&ur Ÿwur šoYŠÅÁ÷ètƒ Îû 7$râ÷êtB   £`ßg÷è΃$t6sù öÏÿøótGó$#ur £`çlm; ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÊËÈ  
Artinya :"Hai Nuh, apabila datang kepadamu perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dosa yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada ALlah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang," (Al-Mumtahanah: 12).
tûïÏ%©!$#ur Ÿw šcqããôtƒ yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä Ÿwur tbqè=çFø)tƒ }§øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ Ÿwur šcqçR÷tƒ 4 `tBur ö@yèøÿtƒ y7Ï9ºsŒ t,ù=tƒ $YB$rOr& ÇÏÑÈ  
Artinya : Dan orang-orang yang tidak beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan ALlah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yagn melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya," (Al-Furqaan: 68).
E.  Hikmah
Hikmah yang dapt kita ambil dari hadits tersebut adalah :
1.    Kita mesti lebih yakin dengan firman Allah swt. Demi Allah, dzat yg menguasai jiwaku, Allah SWT dan Rasul-Nya tidak akan pernah berbohong dan mengingkari janji yg telah diikrarkan.
2.    Iman harus selalu ditingkatkan. Perbanyak mendekat kepada Allah swt, terutama di saat – saat gamang, tidak fokus, da hilang kendali.
3.    Setan akan selalu menggoda manusia, in any cost. Jika kita merasa setan sedang datang menggoda, dalam bentuk apapun, mintalah pertolongan kepada Allah SWT.
4.    Terdapat kabar gembira bagi orang tua yang miskin maupun yang takut miskin, bahwasanya Allah Azza wa Jalla yang memberi rizki mereka semua, maka hendaknya mereka tetap bersabar dan tidak membunuh anak kandung mereka.









[1] Lihat didalam kitab al-lu’lu wal marjan, hal. 210          
[2] Aisarut tafâsîr (Juz 3/Hal 191).
[3] Tafsîr as-Sa’di (Juz 1/Hal 279) dengan merubah dhamîr mukhâtabîn ke ghâibîn untuk menyelaraskan siyâqul kalâm
[4] Drs. Fatchur Rahman. Ikhtisar Mustholahul Hadits. Bandung:PT. Al Ma’arif.1974, hal 375

Tidak ada komentar:

Posting Komentar