Selasa, 25 Juni 2013

makalah bimbingan konseling



PEMBAHASAN
1.                  Pola Organisasi dan Program BK
1.    Definisi Pola Organisasi
Dalam bimbingan konseling  hal yang paling mendasar  adalah pola organisasi itu sendiri karena pola inilah yang membedakan antara pola organisasi bimbingan konseling  dan pola organisasi lainnya.  Sebelum berlanjut kepada pembahasan berikutnya, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian dari pola organisasi  itu sendiri.  Pola organisasi  terdiri dari dua kata yaitu pola dan organisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap.
Sedangkan organisasi Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat[1]. Menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebutatasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.” (Burky dan Perry, 1998) Organissasi adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari sekelompok orang yang bertindaksecara bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam organisasi setidaknya harus memiliki tiga profes, yaitu (a) Sekumpulan orang, (b) Kerjasama, (c) Tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian, organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang terdiri setidaknya dua orang, berfungsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkain sasaran.
Sebagaimana fungsi organisasi sebagai media menyatukan persepsi dan tujuan bersama yang hendak dicapai, kehadiran organisasi profesi, khususnya di bidang bimbingan dan konseling di lingkungan lembaga pendidikan menjadi sangat penting. Hal itu karena kegiatan program bimbingan dan konseling berarti suatu bentuk kegiatan yang mengatur kerja, prosedur kerja, dan pola kerja atau mekanisme kerja kegiatan bimbingan dan konseling. Kegiatan bimbingan ini terfokuskan pada pelayanan yang diberikan kepada para siswa dan rekan tenaga pendidik serta orangtua siswa, dan evaluasi program bimbingan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi25pQfjP07O0V4VwWYW2snpX1eN3GaJNQHXT9MyNFYY7hX-iuMpa4LEs3oPzyOLjQwBr0xq5TCrrlkJVWwWEvvJ_Bg87I93P6FHytHHcA_Ia6xps5ZogOrGHO1UJvhXPTj2MwRTVaww0c/s320/ORGANIGRAM.jpg
Gambar 1. Pola Organisasi Bimbingan Konseling di SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK

2.    Definisi Program BK
Pelayanan bimbingan di Sekolah/Madrasah merupakan usaha mambantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencaaan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual atau kelompok,  sesuai kebutuhan potensi, bakat, minat, serta perkembangan peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga mambantu  mengatasi kelemahan dan hambatan serta  masalah yang dihadapi peserta didik. Program bimbingan merupakan suatu rangkai kegiatan terencana, terorganisasi, dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu.[2] Tohorin (2007:259) mengemukakan bahwa “Program bimbingan dan konseling merupakan suatu rancangan atau rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.” Rancangan atau terancang kegiatan tersebut disusun secara sistematis, terorganisasi, dan terkoordinasi dalam jangka waktu tertentu
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak akan berjalan efisien sesuai kebutuhan keadaan siswa jika dalam pelaksanaannya tanpa suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, artinya dilakukan secara sistematis jelas dan terarah. Penyusunan program bimbingan dan konseling sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan di sekolah.  Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati (1995:2) mengemukakan bahwa: “Penyusunan program bimbingan dan konseling  disekolah hendaknya  berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa serta kebutuhan-kebutuhan siswa dalam mereka mencapai tujuan pendidikan yaitu kedewasaan siswa itu sendiri.”
Berdasarkan hal tesebut di atas, maka perlulah disusun program bimbingan di sekolah agar usaha layanan bimbingan di sekolah betul berdaya guna dan berhasil guna serta tepat sasaran.
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan, seperti diantaranya :
a.       Memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha, biaya, dengan menghindari kesalahan-kesalahan, dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.
b.      Memungkinkan siswa untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan, ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan.  
c.       Memungkinkan setiap petugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana dan di mana mereka harus melakukan upaya secara tetap; dan
d.      Memungkinkan para petugas untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa dibimbingnya.
e.        Adanya kejelasan kegiatan bimbingan dari antara keseluruhan kegiatan program sekolah.[3]
2.    Program dan Komponen- Komponen BK
1.    Program BK
Program merupakan salah satu konsekuensi bagi setiap kegiatan atau aktivitas manusia dalam mencapai suatu tujuan, dari aktivitas yang sangat sederhana tidak tertulis sampai dengan yang sangat kompleks, tertulis, dan sistematis. Disadari maupun tidak dalam setiap aktivitas manusia ada sebuah program, sekalipun hanya di dalam pikiran. Dapat dikatakan bahwa program merupakan pedoman, pegangan, atau panduan bagi para pelaksana suatu kegiatan. Dan agar bimbingan konseling dapat berjalan dengan lancar, efisien, dan efektif perlu adanya sebuah program.
Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antar kelas dan antar jenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah.
Dilihat dari jenisnya, program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program, yaitu:
a.    Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
b.     Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
c.    Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
d.   Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
e.    Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG). [4]
 Dalam perencanaan program BK disekolah perlu dilakukan dan dipersiapkan hal-hal sebagai berikut :
1.    Studi kelayakan
Studi kelayakan merupakan refleksi tentang alasan-alasan mengapa diperlukan suatu program  imbingan dan juga perlu dilakukan untuk melihat program mana yang lebih layak untuk dilaksanakan dalam bentuk layanan bimbingan terhadap siswa. Studi kelayakan dapat diadakan oleh pimpinan sekolah dengan mengundang beberapa ahli bimbingan. Dapat pula dilaksanakan oleh seorang guru  yang sudah berpengalaman dilembaga yang bersangkutan
2.    Penyusunan program
bimbingan Penyusunan program bimbingan dapat dikerjakan oleh tenaga ahli atau guru BK disekolah dengan melibatkan tenaga bimbingan yang lain.
3.    Penyusunan program BK  harus merujuk kepada kebutuhan sekolah secara umum dan lingkup layanan BK disekolah.
a.     Penyediaan sarana fisik dan teknis
b.    Penentuan sarana personil dan pembagian tugas
c.     Kegiatan-kegiatan penunjang
Adapun tujuan Program BK menurut Dewa Ketut Sukardi Dan Desak Made Sumiati (2005:3) tujuan program bimbingan dan konseling disekolah terdiri dari : (1) Tujuan umum, dan (2) Tujuan Khusus. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut :
a.    Tujuan Umum Program Bimbingan
1.    agar siswa dapar memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuannya disekolah
2.    agar siswa dapat memperkembangkan pengatahuan tetang dunia kerja, kesempatan kerja serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu.
3.    agar siswa dapat memperkembangkan kemampuan untuk memilih dan mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang secara tepat dan bertanggung jawab.
4.    agar siswa dapat mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri orang lain.
b.    Tujuan Khusus Program Bimbingan
1.    agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri.
2.    agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulotan dalam memahami lingkungannya.
3.    agar siswa memiliki kemampuan dalam mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
4.    agar para siswa memiliki kemampuan untuk mengastasi dan menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam pendidikan dan lapangan kerja secara tepat.
2.    Komponen – Komponen BK
Komponen adalah bentuk atau bagian, jadi komponen dasar bimbingan dan konseling adalah apa saja yang menjadi dasar dari bimbingan dan bimbingan konseling itu sendiri, sehingga dalam prosesnya akan berjalan sebagaimana mestinya. Yang ternasuk komponen dasar konseling yaitu :
a.         Konselor
Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam konseling. Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tapi juga merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum di masyarakat.[5] Dengan kata lain konselor sebagai adalah seorang yang memberikan bantuan kepada seseorang atau kelompok untuk memecahkan suatu masalah, baik masalah keluarga atau masalah dengan lingkungan sekitar.
Konselor ini bisa berupa seorang dokter psikologi, dosen atau yang lain. Adapun peran seorang konselor yaitu sebagai sebagai mediator, konselor akan menghadapi beragam klien yang memiliki perbedaan, budaya, nilai-nilai, agama serta keyakinan. Dan sebagai penasehat sekaligus pembimbinng. Peran konselor sebagai pembimbing dan penasehat adalah sebagai berikut :
a.         Konselor memberikan bimbingan atau tuntunan kepada klien sesuai dengan masalah yang dihadapi keluarga tersebut. Oleh karena itu seorang konselor harus memilki kematangan dalam kepribadian agar konselor dapat memandang suatu masalah yang sedang di tanganinya dengan dewasa dan bijaksana.
b.         Konselor memberikan nasehat dengan cara membantu klien agar dapat melakukan Sesuatu yang baik untuk keluarganya atau dirinya dan menghindari hal-hal yang tidak sepantasnya di lakukan, baik oleh dirinya ataupun keluarganya. Serta dapat menyelesaikan masalahnya.
b.         Klien
Klien berasal dari bahasa inggris; client. Di kamus oxford, istilah client mempunyai pengertian atau definisi sebagai berikut; person who uses the services of a professional person or organization, eg; a lawyer or a bank (seseorang yang menggunakan layanan dari seorang atau sebuah organisasi profesional; contohnya pengacara atau bank). Klien yaitu orang yang membutuhkan bantuan atau pelayanan dari seseorang ahli guna mendapat jawaban atau solusi.
Tujuan klien yang datang menemui konselor bersumber dari ekpektasi klien mengenai masalah mendesak yang sedang dirisaukan oleh klien. Dengan demikian, yang dirisaukan oleh klien pada saat itu adalah “ bagaimana mengatasi gangguan ini “ atau bahkan klien tidak mengerti perasaannya dan apa yang dikehendakinya menemui konselor. Dengan kata lain, klien sering kali tidak memiliki tujuan-tujuan masa datang yang terumuskan secara jelas.
Perlu ditegaskan lagi bahwa para klien menghadiri konseling dengan ekpektasi-ekpektasi dan tujuan-tujuan khas dan beragam dari klien ke klien. Seperangkat ekpektasi dan tujuan itu mempengaruhi arah dan hasil konseling, dan menentukan apakah konseling berlanjut, atau perlu direfer, ataukah konseling diakhiri¸setelah konseling sesi pertama.
c.         Teknik-teknik konseling
Yang di maksud dengan teknik konseling disini adalah cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang konselor dalam proses konseling untuk membantu klien agar berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi lingkungannya yakni nilai-nilai social, budaya dan agama.dalam proses konseling, penguasaan terhadap teknik konseling akan merupakan kunci eberhasilan untuk mencapai tujuan konseling. Seorang konselor yang efektif harus harus mampu merespon klien secara baik dan benar sesuai dengan klien pada saat itu. Respon-respon yang baik berupa pertanyaan-pertanyaan verbal dan nonverbal yang dapat menyentuh, merangsang, dan mendorong sehingga klien terbuka untuk menyatakan secara bebas perasaan, pikiran, dan pengalamannya.
3.                            Ciri – Ciri Program BK yang Efektif
Sebagai  layanan yang profesional maka layanan Bimbingan dan Konseling saat ini harus memperhatikan kebutuhan siswa. (Nurihsan, 2006: 55) mengungkapkan bahwa kualitas mutu layanan bimbingan akan mendapatkan pengakuan jika layanan Bimbingan dan Konseling mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh para konseli. Secara lebih rinci Nurihsan, 2006: 55) mengungkapkan bahwa mutu layanan bimbingan dan konseling merujuk pada proses dan produk layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa, masyarakat, serta pemerintah.
Dengan kata lain, dalam penyusunan program layanan bimbingan harus memperhatikan banyak aspek, dan hal yang paling pokok adalah program yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan tidak melenceng dari tujuan pendidikan. Oleh karena itu penyusunan dan pengembangan program BK harus berdasar pada analisis kebutuhan yang valid dan reliabel, sehingga data yang dihasilkan bisa dijadikan dasar pengembangan program.
Rochman Natawidjaya mengemukakan bahwa Program Bimbingan dan Konseling yang baik adalah yang efektif dan efisien dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata dari para siswa yang bersangkutan.
2.      Kegiatan bimbingan disusun menurut skala prioritas yang juga ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
3.      Program dikembangkan berangsur-angsur dengan melibatkan semua tenaga pendidikan dalam merencanakannya.
4.      Program memiliki tujuan yang ideal, tetapi realistis dalam pelaksanaannya.
5.      Program mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan di antara semua anggota dan staf pelaksananya.
6.      Menyediakan fasilitas yang diperlukan.
7.      Penyusunan disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan yang bersangkutan.
8.      Memberikan kemungkinan pelayanan kepada semua siswa yang bersangkutan.
9.      Memperlihatkan peranan yang penting dalam menghubungkan dan memadukan
10.  Berlangsung sejalan dengan proses penilaian diri, baik mengenai program itu sendiri maupun kemajuan dari siswa yang dibimbing, serta mengenai kemajuan pengetahuan,  keterampilan dan sikap para petugas pelaksananya.
11.  Program itu menjamin keseimbangan dan kesinambungan pelayanan bimbingan dalam  hal : 1) pelayanan kelompok dan individual; 2) pelayanan yang diberikan oleh petugas  bimbingan; 3) penggunaan alat pengukur yang obyektif dan subyektif; 4) penela’ahan tentang siswa dan pemberian bimbingan; 5) pelayanan diberikan dalam berbagai jenis bimbingan; 6) pemberian bimbingan umum dan khusus; 7) pemberian bimbingan tentang berbagai program sekolah ; 8) penggunaan sumber-sumber di dalam dan di luar sekolah; 9) kesempatan untuk berpikir, merasakan, dan berbuat; 10) kebutuhan individu dan kebutuhan masyarakat.
  1. Menjamin keseimbangan penerimaan pelayanan bimbingan dalam berbagai hal[6].
4.    Cara Penyusunan Program BK
Penyusunan program bimbingan dan konseling  dapat dikerjakan oleh tenaga ahli bimbingan atau guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah dengan coordinator bimbingan dan konseling yang melibatkan tenaga bimbingan yang lain. Penyusunan program bimbingan dan konseling harus merujuk pada kebutuhan sekolah secara dan lingkup bimbingan dan konseling di sekolah.
Menurut Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) dalam menyusun program BK diperlukan langkah2 sbb :
  1. Tahap Persiapan, tahap ini mempunyai arti penting dalam menarik minat dan Perhatian dalam BK dan memelihara suasana psikologis yang menguntungkan semua pihak yang ikut terlibat didalamnya sejak awal. Tahap ini digunakan sebagai langkah awal dalam pelaksanaan program.
  2. Pertemuan- pertemuan para konselor yang ditunjuk oleh pimpinan sekolah, tujuannya untuk menyamakan pikiran tentang perlunya program Bk serta program yang akan disusun. Pertemuan ini melibatkan semua pihak yang tertarik dan mempunyai kemampuan dalam bidang BK.
  3. Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program BK, yang mempunyai tugas untuk merumuskan tujuan program bimbingan yang akan disusun, mempersiapkan bagan organisasi dari program tsb, dan membuat kerangka dasar dari program yang akan disusun.
  4. Pembentukan Pantia penyelenggara program, yang bertugas mempersiapkan program tes, mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan dan melatih para pelaksana program bimbingan untuk melaksanakan program tsb.
  5. Pelaksanaan program BK, hal yang harus diperhatikan : masalah yang muncul, waktu penyelesaian masalah, prosedur penyelesaian masalah baik dgn test maupun non test, dan pelaksana staf BK, serta sarana dan prasarana yang perlu ditunjang.
6.    Follow up, setiap akhir tahun perlu dilakukan evalusai terhadap pelayanan BK agar pelayanan BK dari tahun ke tahun semakin baik dan memuaskan.Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah perlu mengikuti pola kerja yang sistematis, sehingga program bimbingan dan konseling dapat terlaksana dengan baik. Tanpa sistem kerja yang baik, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah akan kurang efektif.



[1]Anas Salahudin. 2010. Bimbingan dan Konseling. Bandung : CV. Pustaka Setia
[2]  W.S. Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
[3] sondyi.blogspot.com/2013/06/04/.pengertian-program-bimbingan-dan.html
[4] http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20121130055637AAmiHSB
[5] Id.wikipedia.org./wiki/Konselor_pendidikan/2013/06/04
[6] Djumhur dan Moh.Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Indonesia, (Bandung: CV. Ilmu, 2003), hal.45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar